Lahirnya Pustaka Baharu
Preambule
Kami percaya bahwa perpustakaan merupakan unit terpenting yang harus dimiliki oleh berbagai institusi, terutama universitas. Namun, narasi perpustakaan sebagai tempat yang tua, membosankan, dan "serius" seringkali melekat di kalangan mahasiswa. Pustaka Baharu ingin mendefinisikan ulang hal tersebut, karena kami ingin membuktikan bahwa perpustakaan juga dapat menjadi ruang aman bagi mahasiswa untuk berekspresi secara akademis dengan keunikan identitas masing-masing.
That's why we're exist.
Tupoksi
Pada dasarnya, kami memberikan solusi kehumasan bagi perpustakaan universitas untuk memperkuat awareness nya di kalangan mahasiswa. Solusi yang diberikan yaitu berupa pembuatan media (brand awareness media; baik poster, video, dsb.) serta aksi lapangan (campaign stunt).
Oshi (おし)
Dua tokoh ahli telah menjadi panutan kami dalam membentuk inisiatif ini, yaitu Ray Oldenburg (1932-2022; pencetus istilah third place) dan Henry Jenkins (lahir th. 1958; pencetus konsep participatory culture).
Taka-kun
Ia merupakan maskot utama dari Pustaka Baharu.
Nirlaba
Kami merupakan proyek nirlaba (non-profit) yang tidak berorientasi pada keuntungan. Hal ini jelas, karena kami berkompromi untuk menciptakan kampanye kehumasan berkualitas tanpa mengambil untung sepeserpun. Kami percaya standar kehumasan harus dinaikkan dengan inovasi tanpa halangan profitabilitas.
Selain itu, kami juga memiliki keunikan komunikasi (communication quirks), yaitu menggunakan referensi budaya pop sebagai cameo dalam berbagai media kami. Maka dari itu, untuk menghargai pemilik hak cipta dari referensi budaya pop yang kami gunakan; sekaligus tetap berada pada lingkup penggunaan wajar (fair use), kami akan tetap berstatus nirlaba.